Mendulang Pahala Ketika Hujan

Mari mendulang pahala dengan mencontoh apa yang Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama lakukan ketika hujan. Berikut beberapa amalan beliau :

Berbahagia ketika turun hujan, bersedih ketika mendung

1. Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata;

انَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا كَانَ يَوْمُ الرِّيحِ وَالْغَيْمِ عُرِفَ ذَلِكَ فِى وَجْهِهِ أَقْبَلَ وَأَدْبَرَ فَإِذَا مَطَرَتْ سُرَّ بِهِ وَذَهَبَ عَنْهُ ذَلِكَ. قَالَتْ عَائِشَةُ فَسَأَلْتُهُ فَقَالَ « إِنِّى خَشِيتُ أَنْ يَكُونَ عَذَابًا سُلِّطَ عَلَى أُمَّتِى ». وَيَقُولُ إِذَا رَأَى الْمَطَرَ « رَحْمَةٌ »

“Apabila ada angin bertiup kencang sekali, maka hal itu dapat diketahui dari wajah beliau shallallohu ‘alaihi wasallam, beliau bolak-balik ke depan dan ke belakang. Dan ketika hujan turun, maka beliau pun senang dan hilanglah kekhawatirannya. Aisyah berkata; Maka saya pun menanyakan hal itu pada beliau, beliau menjawab: “Saya khawatir, bisa jadi hal itu akan menjadi adzab yang ditimpakan kepada umatku.” Dan ketika melihat hujan beliau bersabda: “(ini adalah) rahmat.”

(Muslim)

2. ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata :

 كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا عَصَفَتْ الرِّيحُ قَالَ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَ مَا فِيهَا وَخَيْرَ مَا أُرْسِلَتْ بِهِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّ مَا فِيهَا وَشَرِّ مَا أُرْسِلَتْ بِهِ قَالَتْ وَإِذَا تَخَيَّلَتْ السَّمَاءُ تَغَيَّرَ لَوْنُهُ وَخَرَجَ وَدَخَلَ وَأَقْبَلَ وَأَدْبَرَ فَإِذَا مَطَرَتْ سُرِّيَ عَنْهُ فَعَرَفْتُ ذَلِكَ فِي وَجْهِهِ قَالَتْ عَائِشَةُ فَسَأَلْتُهُ فَقَالَ لَعَلَّهُ يَا عَائِشَةُ كَمَا قَالَ قَوْمُ عَادٍ { فَلَمَّا رَأَوْهُ عَارِضًا مُسْتَقْبِلَ أَوْدِيَتِهِمْ قَالُوا هَذَا عَارِضٌ مُمْطِرُنَا }

“Apabila ada angin bertiup kencang sekali, maka Nabi shallallohu ‘alaihi wasallam biasanya membaca: “ALLAHUMMA INNII ASALUKA KHAIRAHAA WA KHAIRA MAA FIIHAA WA KHAIRA MAA URSILAT BIHI WA A’UUDZU BIKA MIN SYARRIHAA WA SYARRI MAA FIIHAA WA SYARRI MAA URSILAT BIHI” (Ya Alloh, sungguh, aku memohon kepada-Mu kebaikan angin, kebaikan yang dikandungnya, dan kebaikan yang dibawanya. Dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukannya, keburukan yang ada di dalamnya dan keburukan yang dibawanya).” Apabila langit gelap berawan, maka beliau akan kelihatan pucat, keluar masuk rumah, ke depan dan ke belakang. Dan jika hujan turun, beliau pun merasa lega, dan hal itu dapat diketahui dari raut wajahnya. Aisyah berkata; Saya menanyakan hal itu pada beliau, maka beliau berkata: “Wahai Aisyah, kalau cuaca seperti ini, saya khawatir jangan-jangan akan terjadi seperti apa yang diungkapkan oleh kaum ‘Aad, ‘Maka tatkala mereka melihat azab itu berupa awan yang menuju ke lembah-lembah mereka, berkatalah mereka: ‘Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami.”

(Muslim)

3. ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata :

مَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- مُسْتَجْمِعًا ضَاحِكًا حَتَّى أَرَى مِنْهُ لَهَوَاتِهِ إِنَّمَا كَانَ يَتَبَسَّمُ – قَالَتْ – وَكَانَ إِذَا رَأَى غَيْمًا أَوْ رِيحًا عُرِفَ ذَلِكَ فِى وَجْهِهِ. فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَى النَّاسَ إِذَا رَأَوُا الْغَيْمَ فَرِحُوا. رَجَاءَ أَنْ يَكُونَ فِيهِ الْمَطَرُ وَأَرَاكَ إِذَا رَأَيْتَهُ عَرَفْتُ فِى وَجْهِكَ الْكَرَاهِيَةَ قَالَتْ فَقَالَ « يَا عَائِشَةُ مَا يُؤَمِّنُنِى أَنْ يَكُونَ فِيهِ عَذَابٌ قَدْ عُذِّبَ قَوْمٌ بِالرِّيحِ وَقَدْ رَأَى قَوْمٌ الْعَذَابَ فَقَالُوا (هَذَا عَارِضٌ مُمْطِرُنَا) »

““Saya tidak pernah melihat Rasululloh shallallohu ‘alaihi wasallam tertawa terbahak-bahak hingga kelihatan tenggorokan beliau, karena biasanya beliau hanya tersenyum.” Aisyah juga berkata; Dan jika beliau melihat awan hitam mengkelam atau angin yang bertiup kencang, maka (kekhawatiran) dapat dilihat dari raut wajah beliau. Aisyah pun bertanya, “Wahai Rasululloh, saya memperhatikan manusia, bila mereka melihat kabut hitam, maka mereka begitu senang, karena akan segera turun hujan, namun saya memperhatikan Tuan ketika melihatnya, saya dapat menangkap (kekhawatiran) di raut muka Tuan.” Beliau menjawab: “Wahai Aisyah, saya khawatir bahwa kabut itu akan menjadi adzab. Sungguh, telah ada suatu kaum yang diadzab dengan angin, dan kaum itu pun telah melihat adzab, namun mereka berkata, ‘Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami.’”

(Muslim)

Menggulung pakaian agar terkena air hujan

Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata :

 أَصَابَنَا وَنَحْنُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- مَطَرٌ قَالَ فَحَسَرَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- ثَوْبَهُ حَتَّى أَصَابَهُ مِنَ الْمَطَرِ. فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ لِمَ صَنَعْتَ هَذَا قَالَ « لأَنَّهُ حَدِيثُ عَهْدٍ بِرَبِّهِ تَعَالَى

“Hujan turun membasahi kami (para Sahabat) dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wasallam.  Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wasallam membuka bajunya sehingga hujan mengguyur beliau, maka kami bertanya, “Wahai Rasulullah untuk apa engkau berbuat seperti ini?”, beliau menjawab:

لِأَنَّهُ حَدِيثُ عَهْدٍ بِرَبِّهِ تَعَالَى

“Karena sesungguhnya hujan ini baru saja Allah ta’āla ciptakan.”

Hadist ini bukan menunjukkan sunnahnya mandi hujan-hujanan, akan tetapi sunnah menyingkap beberapa anggota badan agar terkena air hujan ketika pertama kali turun.

 

Ucapan muadzdzin ketika adzan diwaktu hujan

أَنَّ ابْنَ عُمَرَ أَذَّنَ بِالصَّلاَةِ فِى لَيْلَةٍ ذَاتِ بَرْدٍ وَرِيحٍ فَقَالَ أَلاَ صَلُّوا فِى الرِّحَالِ. ثُمَّ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَأْمُرُ الْمُؤَذِّنَ إِذَا كَانَتْ لَيْلَةٌ بَارِدَةٌ ذَاتُ مَطَرٍ يَقُولُ « أَلاَ صَلُّوا فِى الرِّحَالِ ».

“Ibnu Umar pernah beradzan ketika shalat di waktu malam yang dingin dan berangin. Kemudian beliau mengatakan ‘Alaa shollu fir rihaal’ [shalatlah di rumah kalian].

Kemudian beliau mengatakan,”Dulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallammemerintahkan mu’adzin ketika keadaan malam itu dingin dan berhujan, untuk mengucapkan ‘Alaa shollu fir rihaal’ [hendaklah kalian shalat di rumah kalian].”(HR. Muslim no. 1632 dan Abu Daud no. 1063)

Ini adalah satu di antara sekian banyak sunnah yang mulai ditinggalkan sebagian besar manusia saat ini. Maka hendaknya bagi mereka yang mengetahui, untuk bersemangat menghidupkan sunnah. Ada beberapa perbedaan pandangan tentang beberapa lafadz yang di ucapkan dalam adzan ketika turun hujan, dengan perincian sebagai berikut :

1. Pengganti ucapan “Hayya ‘alas shalah”

حديث ابن عبّاس رضي الله عنه في “الصّحيحين” أنّه قال لمؤذّنه في يوم مطير: إذا قلت ( أشهد أنّ محمّدا رسول الله ) فلا تقل ( حيّ على الصّلاة ) قل ( صلّوا في بيوتكم ) فكأنّ الناس استنكروا، فقال: « فَعَلَهُ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مِنِّي »

Hadist dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata kepada muadzdzin ketika turun hujan :

“Jika kamu selesai mengucapkan ‘Asyhadu anna muhammadan rasulullah‘ maka jangan lanjutkan dengan ‘Hayya ‘alas shalah‘ melainkan ucapkan ‘Shalluu fii buyutikum‘. Manusia (disamping Ibnu Abbas saat itu) terlihat mengingkarinya, maka beliau berkata “Sesungguhnya manusia yang lebih baik dariku (Muhammad) telah melakukan hal seperti ini”

(Bukhari dan Muslim)

2. Setelah ucapan “Hayya ‘alal falaah”

حديث رجل من ثقيف في سنن النَسائي أنَه سمع مناديَ النبيِّ صلى الله عليه و سلم يقول في ليلة مطيرة في السَّفر يقول: (حيّ على الصّلاة) (حيّ على الفلاح) (صلّوا في رحالكم)

 Hadits yang diriwayatkan dari Amr bin Aus, ia berkata, ‘Telah mengabarkan kepadaku seseorang dari bani Tsaqif, bahwa ia pernah mendengar muadzin Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, yakni di malam turunnya hujan ketika dalam perjalanan, mengatakan, ‘Hayya alas shalâh, Hayya alal falâh, shallû fi rihâlikum.’ 

(Shahih. An-Nasai 653)

3. Setelah selesai adzan

Yaitu setelah selesai mengucapkan Lâ Ilâha Illallah. Hal ini didasarkan pada hadits Ibnu Umar.

( صلّوا في رحالكم ) فأخبرنا أنّ رسول الله صلى الله عليه و سلم كان يأمر مؤذّناً يؤذّن ثمّ يقول على إثره: ( أَلاَ صَلُّوا فِي الرِّحَالِ ) في اللّيلة الباردة أو المطيرة، أو في السّفر

Bahwa ibnu ‘Umar pernah mengumandangkan azan pada suatu malam yang dingin, banyak angin dan hujan. Lalu diakhir adzan beliau mengucapkan, ‘Ala Shallu fi rihâlikum, ala shallu fir rihâl.’ Kemudian beliau berkata, ‘Jika malam sangat dingin atau pun hujan ketika safar, Rasulullah memerintah muadzinnya untuk mengucapkan, ‘Alâ Shallû fi rihâlikum.’

(HR. Muslim 697)

Dibolehkan bagi muadzdzin untuk memilih di antara ketiga perincian tersebut.

Ucapan ketika hujan atau setelahnya

Hadist dari Zaid Radhiyallahu Anhu,

صَلَّى بِنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَاةَ الصُّبْحِ بِالْحُدَيْبِيَّةِ فِي إِثْرِ سَّمَاءِ كَانَتْ مِنْ اللَّيْلِ، فَلَمَّا انْصَرَفَ أَقْبَلَ عَلَى النَّاسِ فَقَالَ هَلْ تَدْرُونَ مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ؟  قَالُوا: اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ: قَالَ أَصْبَحَ مِنْ عِبَادِي مُؤْمِنٌ بِي وَكَافِرٌ فَأَمَّا مَنْ قَالَ: مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللَّهِ وَرَحْمَتِهِ فَذَلِكَ مُؤْمِنٌ بِي كَافِرٌ بِالْكَوْكَبِ، وَأَمَّا مَنْ قَالَ : مُطِرْنَا بِنَوْءِ كَذَا وَكَذَا فَذَلِكَ كَافِرٌ بِي مُؤْمِنٌ بِالْكَوْكَبِ

“Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam shalat shubuh bersama kami di Hudaibiyah di atas bekas turun hujan di malam harinya. Ketika usai beliau menghadap orang banyak, lalu bersabda, ‘Tahukah kalian, apakah yang di-firmankan Rabb kalian?’
Para shahabat menjawab, ‘Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.’ Beliau bersabda, ‘Dia berkata, ‘Pagi ini hamba-Ku ada yang beriman kepada-Ku dan ada pula yang kafir. Siapa yang mengatakan, ‘Kami diberi hujan karena karunia dan rahmat Allah’, dialah orang yang beriman kepada-Ku dan kafir kepada bintang-bintang. Sedangkan orang yang mengatakan, ‘Kami diberi hujan karena bintang ini dan itu, dialah orang yang kafir kepada-Ku dan beriman kepada bintang-bintang.’”

(Bukhari)

Ucapan مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللَّهِ وَرَحْمَتِهِ ini ada yang berpendapat boleh diucapkan ketika turun hujan atau setelahnya, seperti pendapat Imam An Nasai rahimahullahu. Dan adapula yang berpendapat diucapkan setelah turun hujan, seperti pendapat Imam An Nawawi rahimahullahu. Akan tetapi, wallahu a’lam, dzahir hadist menyatakan bahwa ucapan
مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللَّهِ وَرَحْمَتِهِ itu diucapkan setelah turun hujan.

Berdoa ketika turun hujan

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallama bersabda :

اطلبوا استجابة الدعاء عند التقاء الجيوش ، وإقامة الصلاة ، ونزول الغيث

“Carilah do’a yang mustajab pada tiga keadaan: [1] Bertemunya dua pasukan, [2] Menjelang shalat dilaksanakan, dan [3] Saat hujan turun”.

(Imam Syafi’i dalam Al Umm dan Al Baihaqi dalam Al Ma’rifah, lihat hadits no. 1026 Shohihul Jami’)

 Begitu juga terdapat hadits dari Sahl bin Sa’d, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

ثِنْتَانِ مَا تُرَدَّانِ الدُّعَاءُ عِنْدَ النِّدَاءِوَ تَحْتَ المَطَرِ

“Dua do’a yang tidak akan ditolak: [1] do’a ketika adzan dan [2] do’a ketika ketika turunnya hujan.”[3]

Do’a yang amat baik dibaca kala itu adalah memohon diturunkannya hujan yang bermanfaat. Do’a yang dipanjatkan adalah,

اللَّهُمَّ صَيِّباً ناَفِعاً

“Allahumma shoyyiban naafi’aa [Ya Allah, turunkanlah pada kami hujan yang bermanfaat].”

Itulah yang Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ucapkan ketika melihat turunnya hujan. Hal ini berdasarkan hadits dari Ummul Mukminin, ’Aisyah radhiyallahu ’anha,

إِنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ إِذَا رَأَى الْمَطَرَ قَالَ « اللَّهُمَّ صَيِّباً نَافِعاً

”Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ketika melihat turunnya hujan, beliau mengucapkan, ”Allahumma shoyyiban nafi’an” [Ya Allah turunkanlah pada kami hujan yang bermanfaat]”.
(HR. Bukhari no. 1032, Ahmad no. 24190, dan An Nasai no. 1523)

Ucapan ketika hujan sangat deras

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallama ketika hujan sangat deras beliau berdoa :

( اللهم حوالينا ولا علينا اللهم على الآكام والظراب و بطون الأودية ومنابت الشجر ) رواه البخاري ومسلم .

“Ya Allah (turunkan hujannya) di sekitar kami, jangan di atas kami,(akan tetapi) Ya Allah (turunkan hujannya) di atas pebukitan, lembah dan tempat-tempat yang banyak pohonnya.”

(HR.Bukhari dan Muslim)

Demikianlah beberapa amalan yang kita dapat lakukan ketika hujan turun. Tak perlu murung, tak perlu ikut mendung, jika pahala dapat begitu mudah kita raih, dengan izin Allah.

Diterjemahkan dari http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=294799 dengan beberapa tambahan.

Udrusunnah artikel

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s