STRATEGY MERAIH PAHALA DI WAKTU MALAM LAILATUL QODAR

A. STRATEGY UTAMA

Strategy yg pertama dan yang utama adalah jelas dengan ber-i’tikaf di 10 hari terakhir, memperbanyak dzikir dan membaca Al-Qur’an waktu beri’tikaf di masjid itu.

Ini hal yang jelas dan tidak ada keraguan di dalamnya. Ini “strategy utama” dan bukan “strategy sampingan”.

Berikut akan saya share juga “STRATEGY SAMPINGAN” yang bisa diterapkan baik untuk orang yang ber-i’tikaf ataupun orang yang tidak ber’tikaf.

B. STRATEGY SAMPINGAN
————
1. Membaca Al-Qur’an minimal 100 ayat pada malam hari
———–
Strategy sampingan ini hendaklah dilaksanakan tiap malam pada 10 malam hari terakhir ini dan jangan sampai terlewat sehari pun. Hal ini karena fadhilah keutamaan membaca Al-Qur’an minimal 100 ayat pada malam hari ini akan dianggap sama seperti sholat malam semalam suntuk.

عنْ تَمِيمٍ الدَّارِىِّ رضى الله عنه قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَنْ قَرَأَ بِمِائَةِ آيَةٍ فِى لَيْلَةٍ كُتِبَ لَهُ قُنُوتُ لَيْلَةٍ»

“Dari Tamim Ad Dary radhiyalahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Siapa yang membaca 100 ayat pada suatu malam dituliskan baginya pahala shalat sepanjang malam.” (HR. Ahmad dan dishahihkan di dalam kitab Shahih Al Jami’, no. 6468).

Keutamaan ini sebenarnya berlaku juga pada malam2 biasa saja baik di bulan romadhon ataupun di luar romadhon.

Akan tetapi bayangkan jika amalan ini dilakukan pada bulan romadhon, terlebih pada tiap malam di 10 hari terakhir dan kebetulan bertepatan di malam lailatul Qodar.

Maka bukan main besarnya pahalanya ketika bertepatan pada malam lailatul qodar. Kita akan mendapatkan pahala seperti sholat semalam suntuk, plus ditambah keutamaan yg lebih lagi karena ini dilakukan di bulan romadhon, plus ditambah lagi ketika bertepatan dengan malam lailatul Qodar.

Inilah “PAHALA SHOLAT MALAM SEMALAM SUNTUK PLUS-PLUS!!” yang kita bisa in syaa Alloh kita dapatkan dengan membaca Al-Qur’an minimal 100 ayat pada malam hari.
———–

a. Kalo ingin lebih tamak lagi, maka tambah hingga 200 ayat, atau bahkan lebih. Akan tetapi kalo mengantuk hentikan membaca Al-Qur’an. Karena ada larangan membaca Al-Qur’an ketika ngantuk, ditakutkan salah-salah dalam membaca dan merubah arti.

Oleh karena itu demi kesempurnaan strategy sampingan ini, minumlah kopi sebelumnya biar tidak ngantuk.

b. Atau jika tidak, maka bacalah 100 ayat pada malam hari dulu, jika tidak kuat maka tidur dulu dan bangun untuk sahur lalu lakukan lagi membaca Al-Qur’an minimal 100 ayat. Sahur sambil minum kopi jika perlu agar tidak ngantuk sembari menunggu adzan shubuh.
———–

2. Sholat Tarawih sampai selesai witir bersama dengan imam

a. Di strategy nomer 2 ini maka abaikanlah masalah 11 rekaat ataukah 23 rekaat. Yang penting ikutin sholat tarawih bersama imam hingga selesai !!

Hal ini karena keutamaan sholat malam (tarawih) bersama imam itu akan dianggap mendapat pahala semalam suntuk sama seperti strategy “Membaca Al-Qur’an minimal 100 ayat di malam hari” tadi.

Dari Abu Dzar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ قَامَ مَعَ الْإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ

“Barangsiapa yang shalat bersama imam hingga imam selesai, maka ia dicatat seperti melakukan shalat semalam penuh.” (HR. Tirmidzi no. 806, shahih menurut Syaikh Al-Albani)

b. Hanya saja bedanya keutamaan ini khusus untuk selama di bulan romadhon saja, sebagaimana penjelasan ulama. Dan tidak berlaku untuk di luar romadhon.

c. Sebagai tambahan lagi, syarat untuk mendapatkan keutamaan ini hanya berlaku jika sholat tarawihnya bersama imam DI MASJID. Tidak berlaku jika sholat tarawihnya di rumah walau berjamaah bersama imam juga. Perhatikan benar-benar syarat ini.

Hal ini karena difahami para shohabatpun melakukan sholat tarawih berjamaah dengan imam sendiri-sendiri DI MASJID hingga kemudian disatukan menjadi 1 Imam di zaman Umar bin Khoththob rodhiyalloohu ‘anhu.

d. Adapun untuk yang sholat berjamaah di rumah atau tempat lain selain masjid, maka sholat tarawihnya juga sah-sah saja hanya saja dia tidak mendapatkan keutamaan seperti yang saya sebutkan tadi.

Sedangkan bagi wanita yang mungkin tidak bisa sholat tarawih berjamaah di masjid karena ada udzur yang tidak bisa ditinggalkan seperti mengurus anak dan lain yang sebagainya, maka dia akan tetap bisa mendapatkan keutamaan itu walau dia sholat tarawihnya di rumah saja. Hal ini tidak lain karena dia mendapatkan udzur.

e. Apa bedanya dengan strategy membaca Al-Qur’an minimal 100 ayat di malam hari kalau ternyata pahalanya sama? Kita jelaskan bahwa ini ada bedanya, karena ada “PAHALA PLUS PLUS” yang lain yang bisa kita dapatkan dengan sholat lail (Tarawih) di bulan romadhon ini yang tidak ada di strategy membaca Al-Qur’an minimal 100 ayat di malam hari.

Yakni “PAHALA PLUS PLUS” diampuninya dosa-dosa kita yang telah lalu.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barangsiapa melakukan qiyam Ramadhan karena iman dan mencari pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.”
(HR. Bukhari no. 37 dan Muslim no. 759).

Dan strategy ini akan lebih dahsyat jika kita lakukan pada setiap malam 10 hari terakhir dan bertepatan dengan Lailatul Qodar.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barangsiapa melaksanakan shalat pada lailatul qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.”
(HR. Bukhari no. 1901)

f. Oleh karena ini, janganlah kita ketika sudah 8 rekaat bareng imam terus kabur, atau sudah 20 rekaat terus kabur tidak ikut witir dengan alasan mau sholat malam lagi nanti jadi witirnya nanti saja.

Jangan!! Jangan seperti itu !!! Kita bisa kehilangan kesempatan untuk mendapatkan pahala sholat semalam suntuk karena tidak sholat tarawih bersama imam hingga akhir.

g. Yang terpenting dalam keputusan “MEMILIH IMAM TARAWIH” itu adalah yang thuma’ninah dalam sholat.

Definisi umum thuma’ninah dalam sholat oleh para ulama itu adalah ada jeda sebentar pada tiap2 gerakan sholat untuk meletakkan sendi pada tempatnya hingga diam, dan ada waktu untuk membaca dzikir/doa yg “minimalis” ketika diam itu.

Hal ini penting karena thuma’ninah, dengan jeda waktu diam minimal seperti keterangan di atas itu, adalah SYARAT SAHNYA SHOLAT.

Abu Hurairah meriwayatkan, seseorang memasuki masjid tatkala Rasulullah shalalloohu ‘alaihi wa sallam sedang duduk di sana. Orang itu mengerjakan salat, lalu menghampiri Nabi shalalloohu ‘alaihi wa sallam dan mengucapkan salam kepada beliau.
Nabi shalalloohu ‘alaihi wa sallam menjawab salam, lalu berkata, ”Kembali kerjakanlah salat. Sesungguhnya kamu tadi belum mengerjakannya.”

Maka, orang itu pun kembali mengerjakan salat seperti yang telah dikerjakannya. Kemudian ia kembali dan mengucapkan salam kepada Nabi shalalloohu ‘alaihi wa sallam Beliau menjawabnya, lalu berkata, ”Kembali kerjakanlah salat. Sesungguhnya kamu tadi belum mengerjakannya.” Orang itu pun kembali mengerjakannya seperti semula. Kemudian, ia kembali mengucapkan salam kepada Nabi shalalloohu ‘alaihi wa sallam.

Beliau menjawabnya, dan berkata, ”Kembali kerjakanlah salat. Sesungguhnya kamu tadi belum mengerjakannya.” Beliau mengulanginya tiga kali. Mendengar itu, orang tadi berkata, “Demi (Allah) yang mengutusmu dengan kebenaran wahai Rasulullah, aku tidak bisa mengerjakan salat yang lebih baik dari yang sudah aku kerjakan tadi. Karenanya ajarilah aku.”

Lalu, Rasulullah shalalloohu ‘alaihi wa sallam bersabda,

”Jika kamu berdiri untuk mengerjakan salat, bertakbirlah. Lalu, bacalah beberapa ayat Alquran sebisamu. Lalu, rukuklah dengan tumakninah. Lalu, angkatlah sampai kamu benar-benar berdiri tegak (I’tidal). Lalu, sujudlah dengan tumakninah. Demikian ini kerjakanlah dalam setiap (rakaat) salatmu.”
(HR Bukhari dan Muslim)

Kalo kita menemukan imam yang sholat terawihnya “NGEBUT”, Sujud seperti burung mematuk, gerakan antara satu dan lainnya mengalir seperti gerakan olahraga, dan tidak memenuhi syarat minimal untuk disebut thuma’ninah seperti keterangan yang saya nukil tersebut, maka sebaiknya tinggalkan imam itu dan cari imam di Masjid Lain.

Tinggalkanlah imam itu dan tidak perduli apakah itu yg 11 rekaat, 13 rekaat, 21 rekaat, ataukah 23 rekaat. Yang penting itu adalah adanya thuma’ninah ataukah tidak, karena ini berkaitan dengan syarat sahnya sholat.

h. Adapun jika baik yang sholat tarawihnya 11 rekaat, 13 rekaat, 21 rekaat, ataukah 23 rekaat ternyata semuanya thuma’ninah dan memenuhi syarat sahnya sholat, maka kita boleh pilih.

Akan tetapi sebenarnya yang paling utama adalah yang sholatnya paling lama berdiri dan panjang bacaannya, dengan tidak memperdulikan apakah itu 11 rekaat, 13 rekaat, 21 rekaat, ataukah 23 rekaat. Hanya saja kadang strategy ini kurang popular dan kurang banyak peminatnya……

Dari Jabir bin ‘Abdillah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَفْضَلُ الصَّلاَةِ طُولُ الْقُنُوتِ
“Sebaik-baik shalat adalah yang lama berdirinya”
(HR. Muslim no. 756).

i. Adapun jika pada strategy sebelumnya itu tidak boleh jika “ngantuk-ngantuk” dan sebaiknya dihentikan, tidur dulu, baru baca Al-Qur’an lagi ketika sudah tidak ngantuk. Maka untuk strategy kedua sholat tarawih di masjid bersama imam hingga selesai ini tidak mengapa sambil ngantuk-ngantuk.

Bahkan para shohabat dulu sampai membawa tongkat untuk bertelekan jika ngantuk atau capek ikut sholat tarawih bersama Rosululloh karena saking lamanya, dan bahkan sampai takut tidak bisa makan sahur juga karena panjangnya sholat tarawihnya Rosululloh shalalloohu ‘alaihi wa sallam.

Adapun untuk zaman sekarang, maka ya menyesuaikan dengan kondisi imam dan makmum sajalah….. Sholat tarawih agak lama dikit aja dan bacaannya panjang-panjang saja, kadang2 makmumnya jengkel dan sukanya milih imam yang lain yang tidak lama-lama sholatnya tapi tetap memenuhi syarat thuma’ninah sbg syarat sah sholat….

عَنْ أَبي ذَرٍ رضي الله عنه قَالَ: صُمْنَا معَ رَسُولِ الله صلى الله عليه وسلم رَمَضَانَ فَلَمْ يَقُمْ بنا شَيءٌ مِنَ الشَّهرِ حَتَّى بَقيَ سَبعٌ فَقَام بنا حتَّى ذَهَبَ ثُلُثُ اللَّيلِ، فلمَّا كَانتْ السَّادسَةُ لم يَقُم بِنَا، فلمَّا كانت الخَامِسَةُ قام بِنَا حتَّى ذَهَبَ شطْرُ اللَّيلِ فَقُلتُ: يا رَسُولَ الله، لو نَفَلْتَنَا قِيَامَ هذهِ اللَّيلةِ، قَالَ: فَقَالَ: إنَّ الرَّجُلَ إذا صَلَّى مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنصَرِفَ حُسِبَ له قِيَامُ لَيلَةٍ، قالَ: فلمَّا كانَت الرَّابِعَةُ لم يَقُمْ، فلمَّا كانت الثَّالثَةُ جَمَعَ أَهْلَهُ ونِسَاءَهُ والنَّاسَ فقَامَ بنَا حتَّى خَشِينَا أن يَفُوتَنَا الفَلاحُ. قَالَ: قُلتُ: مَا الفَلاحُ؟ قَالَ: السَّحُورُ، ثمَّ لم يَقُم بنَا بَقِيَّة الشَّهر
رواه الأربعة وصححه الترمذي.

Dari Abu Dzarr radliyallaahu ‘anhu ia berkata : Kami pernah berpuasa bersama Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam pada bulan Ramadlan. Tidaklah beliau shalat tarawih bersama kami hingga tersisa tujuh hari dari bulan tersebut. Saat itu baru beliau shalat bersama kami hingga berakhir/selesai pada sepertiga malam (yang pertama).
Pada saat malam tersisa enam hari lagi, beliau kembali tidak shalat bersama kami. Ketika malam tersisa lima hari lagi, maka beliau shalat bersama kami hingga berakhir/selesai pada waktu tengah malam. Aku berkata : “Wahai Rasulullah, seandainya kita shalat kembali pada (sisa) malam ini ?”. Maka beliau menjawab : ”Sesungguhnya, seseorang yang shalat bersama imam hingga selesai, maka dihitung baginya shalat semalam suntuk”.
Ketika malam tersisa empat hari lagi, beliau tidak shalat bersama kami. Namun ketika malam tinggal tersisa tiga hari, beliau mengumpulkan keluarganya, istri-istrinya, dan orang-orang yang ada; kemudian shalat bersama kami hingga kami khawatir tertinggal waktu falah. Aku pernah bertanya : ”Apa makna falah itu ?”. Beliau shallallaahu ’alaihi wasallam menjawab : ”Waktu sahur”. Kemudian beliau kembali tidak shalat bersama kami pada sisa malam di bulan Ramadlan tersebut.

[Diriwayatkan oleh empat imam, dan dishahihkan oleh At-Tirmidzi]

j. Adapun sholat Tarawih boleh saja dilakukan awal malam, tengah malam, ataupun sepertiga malam terakhir.

Saya belum pernah melihat adanya suatu hadits bahwa sholat tarawih yang dilakukan tengah malam ataupun pada sepertiga akhir malam itu lebih utama dibandingkan yang dilakukan MULAI PADA AWAL MALAM. Kecuali kalo untuk keutamaan berdo’a, maka hal ini jelas lebih utama pada sepertiga malam yang akhir.

Hal ini dibuktikan dengan hadits pada point (i) sebelumnya itu, yang mana semuanya dilakukan oleh Rosululloh dimulai pada awal malam. Hanya yang membedakannya adalah panjang dan lamanya sholat tersebut. Ada satu waktu Rosululloh sholat dari awal malam hingga sepertiga malam. Lain waktu dari awal malam hingga setengah malam. Dan waktu terakhir dari awal malam hingga waktu sahur…… Bayangkan betapa lamanya…… Dan memang sholat tarawih yang lebih lama dan yang lebih panjang itu memang lebih utama.

Adapun untuk sholat malam-sholat malam lainnya di luar bulan romadhon, maka yang jelas lebih afdhol adalah pada sepertiga malam akhir.

Hal ini jelas dari banyaknya hadits shohih yang menerangkan shifat sholat malamnya Rosululloh di luar bulan romadhon berikut juga pembagian waktunya. Namun khusus untuk sholat tarawih di bulan romadhon, maka saya belum menemukan hadits yang menerangkan keutamaannya. Walloohu A’lam
—————–

3. Membaca do’a lailatul Qodar setiap malam pada 10 hari terakhir.

a. Hal ini jelas dan inilah panduan yang diajarkan oleh Rosululloh shalallloohu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu banyak-banyaklah saja membaca do’a lailatul Qodar ini pada setiap malam 10 hari terakhir ini. Jika bertepatan dengan malam Lailatul Qodar, maka Alloh akan mengampuni kesalahan-kesalahan kita.

‘Aisyah bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana menurutmu jika aku mendapatkan Lailatul Qadar, apa yang harus aku baca?” kemudian Beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menjawab, “Ucapkanlah:

اللَّهُمَّ إنَّك عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي
“Ya Allah, sesungguhnya Engkau Mahapemaaf dan senang memaafkan, maka maafkanlah kesalahanku.” (HR. al-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad. Imam al-Tirmidzi dan al-Hakim menshahihkannya)

b. Boleh juga dengan berdo’a dengan do’a yang lain untuk mengiringi doa Lailatul Qodar ini. Akan tetapi do’a lailatul Qodar inilah yang paling utama
——————-

4. Lailatul Qodar itu terjadi sepanjang malam hingga datangnya fajar.

a. Jika kita telah berjaga-jaga sepanjang malam hingga 10 hari terakhir ini, masak sih kita tidak mendapatkannya.

Dan lailatul Qodar itu tidak dipersyaratkan kita harus tau apakah ini malam lailatul qodar ataukah tidak, walaupun ulama banyak memperinci dan menjelaskan ciri-cirinya.

b. Yang penting adalah jika kita beramal bertepatan dengan malam lailatul Qodar itu, maka amalan kita akan senilai dan bahkan lebih baik dibandingkan amalan seribu bulan.

c. Taruhlah misal secara itungan matematis, malam lailatul Qodar itu ada sekitar 10 jam. Dimulai sejak habis isya’ hingga terbit fajar. Sehingga tiap 1 jam itu bernilai amalan 100 bulan (1000 bulan : 10 jam = 100 bulan perjam).

Maka jika misal kita berdzikir dg niat dzikir mutlak yg tidak dibatasi dan tidak dikhususkan oleh jumlah, cara, waktu, dan tempat (kecuali ada dalil shohih), yang mana dzikir mutlak ini diajarkan oleh sunnah yang shohih seperti misal membaca Subhaanalloh, Alhamdulillaah, Allloohu akbar secara sendiri-sendiri dengan suara yang lirih.

Maka jika kita berdzikir selama 1 jam, maka sama saja kita berdzikir selama 100 bulan.

Sekarang bayangkan, jika kita melakukan strategy sampingan yang bernilai dan dianggap sama seperti sholat malam semalam suntuk itu? Maka tiap bagian dari Lailatul Qodar semalam suntuk itu in syaa Alloh akan bisa kita manfaat dan dapatkan pahalanya.
———————

5. Semoga Strategy Sampingan ini bermanfaat bagi kita dan bisa memotivasi kita semua.

Walloohu A’lam. Baarokalloohu fykum

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s