Sudah Benarkah Shalat Kita?

Semarak dan suasana riang gembira terlihat dimana-mana, saat kaum Muslimin menyambut bulan Ramadhan. Geliat semangat beribadah begitu terlihat nyata. Shalat misalnya, seakan seluruh kaum Muslimin tidak mau meninggalkan ibadah ini dalam kondisi bagaimanapun dan dimanapun. Masjid-masjid yang selama ini “merana” kesepian, tidak jarang kemudian tidak mampu lagi menampung kaum Muslimin yang hendak melaksanakan shalat berjama’ah. Sungguh sebuah pemandangan yang menyenangkan sekaligus mengharukan. Semoga Allâh Ta’âla menerima amal ibadah yang dilakukan kaum Muslimin!

Ibadah shalat seharusnya menjadi perhatian kaum Muslimin sepanjang waktu, baik di bulan Ramadhan ataupun di bulan-bulan lain. Karena ibadah yang diterima langsung perintah pelaksanaannya di langit ini menjadi tiang agama dan juga pembatas antara keimanan dengan kekufuran juga kemunafikan. Disamping juga, jika shalat ini dilaksanakan sesuai dengan tuntunan Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam, maka dia bisa mencegah dari perbuatan keji dan mungkar serta bisa menjadi tolok ukur amal lainnya.

Allâh Ta’âla berfirman :
Sesungguhnya shalat itu bisa mencegah dari perbuatan keji dan mungkar (QS. al-Ankabut/29:45)

Namun sangat disayangkan, jika kita menelisik lebih dalam dan seksama, ternyata tidak sedikit praktik shalat yang dilakukan kaum Muslimin saat ini yang tidak sesuai dengan tuntunan Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam. Mulai dari jenis shalatnya, gerakan-gerakannya sampai pada bacaannya, padahal Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam dengan tegas bersabda :

صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي

Juga dalam sabda beliau shallallâhu ‘alaihi wa sallam yang diceritakan oleh Sahabat Abu Hurairah radhiyallâhu ‘anhu :

… وَنَهَانِي عَنْ نَقْرَةٍ كَنَقْرَةِ الدِّيكِ وَإِقْعَاءٍ كَإِقْعَاءِ الْكَلْبِ وَالْتِفَاتٍ كَالْتِفَاتِ الثَّعْلَبِ

… dan melarangku dari mematuk seperti patukan ayam jantan, duduk iq’â seperti duduk iq’â anjing, dan menoleh sebagaimana musang menoleh.

Juga peringatan keras dari Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam saat melihat orang shalat dengan cara yang tidak benar. Beliau shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya, “Jika orang ini mati dalam keadaannya ini, maka ia benar-benar mati tidak di atas agama Muhammad.”

Hadits ini jelas mengisyaratkan keharusan mengikuti gerakan-gerakan Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam dalam melaksanakan ibadah shalat agar menjadi ibadah yang diterima dan bermanfaat di dunia dan akhirat. Namun sangat disayangkan, pemandangan yang kita lihat dalam praktik shalat Terawih misalnya. Di beberapa tempat, seakan sudah menjadi sebuah keharusan, shalat ini lakukan dengan super cepat. Ruku’ dan sujud dilakukan dengan begitu cepat sehingga menyerupai ayam yang mematuk makanan. Tidakkah kita takut dengan ancaman Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam di atas?! Tidakkah kita malu disemati gelar pencuri yang paling buruk?! Semoga Allâh Ta’âla senantiasa memberi hidayah kepada kita semua sehingga bisa memperbaiki diri sebelum ajal datang menjemput.

Ini baru dari sisi gerakan, lalu bagaimana dengan bacaan?! Shalat yang dilakukan dengan cepat, pasti menuntut doa-doanya dibaca dengan cepat. Jika dibaca dengan cepat, maka kecil kemungkinan ada waktu untuk memahaminya, padahal pemahaman seseorang terhadap apa yang dia baca memiliki peran penting dalam menimbulkan kekhusyu’an. Sementara khusyû’ dalam ibadah itu, kedudukannya seperti ruh (jiwa) dalam tubuh manusia. Ibadah yang dilakukan tanpa khusyû’ adalah ibarat tubuh tanpa ruh alias mati. Hendaklah kita berusaha maksimal dan terus berdoa agar menggapai khusyu’ dalam shalat dan menyingkirkan semua yang berpotensi mengganggu.

Para imam adalah orang yang mendapatkan amanah memimpin shalat agar terlaksana dengan baik dan makmum memiliki kesempatan yang cukup untuk membaca dzikir-dzikir dalam shalat.

Para orang tua berkewajiban memberikan contoh dan membimbing anggota keluarganya agar shalat yang mereka lakukan bukan sekedar rutinitas hampa tanpa makna.

“Ya Allâh, sesungguhnya kami berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyû’, dari jiwa yang tidak pernah puas, dan dari doa yang tidak dikabulkan.”

(Tajuk: Majalah As-Sunnah Edisi Khusus/Tahun XVII)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s