Peristiwa Penyerangan Pasukan Gajah

Peristiwa ini sangat terkenal, tahun kejadiannya bertepatan dengan tahun kelahiran Nabi Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wasallam. Allah Ta’ala mengabadikannya dalam Al-Qur’an Al-Karim, surat Al-Fiil ayat 1-5. Didalamnya Allah Ta’ala menegaskan bahwa tipu daya mereka yang ingin menghancurkan Ka’bah itu adalah sia-sia sebab Allah-lah yang akan selalu menjaga dan memelihara Baitul Haram dari tangan-tangan yang ingin menghancurkannya. Al-Imaam Abu Muhammad Ibnu Hisyaam rahimahullah menuturkan mengenai peristiwa ini dalam kitab Sirah Nabawiyyah-nya.

Sekilas Mengenai Abrahah.

Namanya adalah Abrahah Al-Habsyiy, seorang gubernur negeri Yaman yang berasal dari negeri Habasyah, berpostur tinggi besar dan beragama Nashrani. Dikisahkan bahwa sebelum Abrahah memegang jabatan tertinggi di Yaman, kekuasaan waktu itu dipegang oleh Aryath, Abrahah termasuk salah seorang personil kepercayaan Aryath ketika Aryath bersama pasukannya diutus oleh raja Najasyi ke Yaman untuk membantu Daus Dzu Tsa’labah (pemuka kabilah Daus) ketika terjadi pembunuhan massal di Yaman oleh Dzu Nuwas dengan membakar orang-orang yang bertauhid menggunakan parit (kisah Ashhabul Ukhdud). Abrahah berusaha untuk merebut kekuasaan dari tangan Aryath dengan mengajaknya bertarung, yang kemudian Aryath menerima tantangannya. Pertarungan dimenangkan Abrahah dengan mendapat luka robek di dahi dan sekitar matanya, oleh karena itu ia dijuluki Abrahah Al-Asyram (si robek). Pasukan Aryath pun bergabung dengan Abrahah dan jadilah ia penguasa di negeri Yaman. Pada mulanya raja Najasyi murka mendengar gubernurnya dibunuh oleh Abrahah, namun Abrahah menipunya dengan mengirimkan surat yang berisi pernyataan bahwa apa yang terjadi antara dia dan Aryath adalah sebuah perbedaan pendapat dalam memahami perintah raja, dan mereka berdua tetap dalam kepatuhan dan tunduk patuh pada perintah raja Najasyi. Demi membaca surat ini, maka raja pun merestui Abrahah dan meminta dia untuk bertahan di Yaman hingga datang keputusan selanjutnya.

Pemicu Peristiwa Gajah.

Setelah menjadi gubernur Yaman, Abrahah Al-Asyram memerintahkan membangun sebuah gereja yang sangat megah dan indah di Yaman, menurut para ahli sejarah namanya adalah gereja Al-Qullais. Ia pun sesumbar dan mengumumkan pada orang-orang (termasuk mengirimkan surat pada raja Najasyi) bahwa ia akan mengubah haji orang-orang Arab dari Ka’bah di kota Makkah ke gereja Abrahah di kota Shan’a (ibukota negeri Yaman). Oleh karena itu ia pun berketetapan hati akan mendirikan gereja-gereja yang indah. Sesumbar Abrahah sampai ke telinga orang-orang Arab Quraisy hingga pada suatu hari seorang yang bernama Al-Kinaaniy keluar dari rumahnya menuju gereja Abrahah di kota Shan’a kemudian buang air besar didalamnya, maksudnya adalah untuk membalas penghinaan Abrahah terhadap Ka’bah, kemudian Al-Kinaaniy pun kembali. Peristiwa ini dilaporkan kepada Abrahah, ia bertanya, “Siapa yang melakukan perbuatan ini?” Orang-orang berkata, “Pelakunya adalah seorang Arab, ia warga di sekitar Baitullah di kota Makkah, tempat orang-orang berhaji. Ia mendengar ucapanmu bahwa kau akan mengalihkan haji ke gerejamu. Orang itu tidak terima kemudian ia buang air di gerejamu. Ini artinya gerejamu tidak layak dijadikan tempat haji.”

Abrahah amat murka mendengarnya. Ia bersumpah akan pergi ke Baitullah dan menghancurkannya. Ia segera menyiapkan pasukannya dan satu kelompok pasukan gajah. Ada yang meriwayatkan bahwa gajahnya berjumlah 13 ekor. Abrahah sendiri mengendarai seekor gajah yang amat besar, bernama Mahmuud. Kabar ini terdengar oleh orang-orang Arab dan mereka menganggap rencana ini sangat berbahaya, mereka memutuskan untuk memerangi Abrahah dan pasukannya untuk melindungi Ka’bah yang suci. Salah seorang tokoh Yaman bernama Dzu Nafr bersama kaumnya memerangi Abrahah dalam perjalanannya menuju Makkah, namun ia dan kaumnya dapat dikalahkan dengan mudah, Dzu Nafr sendiri menjadi tawanan perang Abrahah. Begitupun ketika tiba di daerah Khats’am, pasukan Abrahah dihadang oleh Nufail bin Habib Al-Khats’amiy dengan dua kabilah yaitu Syahran dan Nais serta beberapa kabilah Arab, namun kekuatan gabungan ini juga dapat dikalahkan dengan mudah bahkan Nufail akhirnya menjadi penunjuk jalan bagi Abrahah. Ketika Abrahah melewati Thaif, orang-orang Tsaqif mengutus salah seorang dari mereka yang bernama Abu Righal untuk menunjuki jalan, namun Abu Righal meninggal di tengah jalan sebelum tiba di Makkah. Abrahah juga merampas unta-unta milik kabilah-kabilah Quraisy yang tengah digembalakan di sekitar Makkah dan diantara unta-unta itu terdapat unta-unta milik ‘Abdul Muththalib.

Pertemuan ‘Abdul Muththalib bin Haasyim dengan Abrahah.

Akhirnya Abrahah pun tiba di Makkah, ia mengutus Hanathah Al-Himyariy dan berkata kepadanya, “Tanyakan siapa pemimpin dan tokoh negeri ini, kemudian katakan kepadanya bahwa kami bermaksud akan memerangi kalian dan menghancurkan Ka’bah. Jika kalian tidak menghalang-halangi, maka kami tidak butuh darah kalian. Tetapi jika kalian memerangi kami, maka bawa pemimpinnya kepadaku.” Hanathah pun segera memasuki kota dan bertanya pada orang-orang Quraisy, kemudian dijawab bahwa pemimpin mereka adalah ‘Abdul Muththalib bin Haasyim bin ‘Abd Manaaf bin Qushaiy. Hanathah menemuinya dan mengutarakan apa yang dikatakan Abrahah. ‘Abdul Muththalib menjawab, “Demi Allah kami tidak ada maksud memerangimu karena kami tak punya kekuatan. Rumah ini (Ka’bah) adalah Rumah Allah yang suci dan rumah kekasihNya, Ibraahiim ‘Alaihissalaam.” Hanathah berkata, “Kalau begitu mari ikut denganku karena seperti itulah yang diperintahkan padaku.” Kemudian ‘Abdul Muththalib dengan dikawal sebagian anak-anaknya pergi bersama Hanathah menuju perkemahan Abrahah dan pasukannya.

Ketika Abrahah melihat ‘Abdul Muththalib, tahulah ia bahwa pemimpin Quraisy ini adalah orang yang mulia. Abrahah menghormatinya, ia pun turun dari singgasana kemudian duduk di atas permadaninya dan mempersilahkan ‘Abdul Muththalib untuk duduk di sebelahnya. Abrahah berkata (dengan dibantu penerjemahnya), “Apa keperluanmu wahai pemimpin?” ‘Abdul Muththalib menjawab, “Keperluanku adalah hendaknya raja Abrahah mengembalikan 200 ekor unta yang dirampas dariku.” Abrahah membalas, “Sesungguhnya aku kagum ketika melihatmu. Apakah kau membicarakan 200 ekor unta yang aku rampas dan kau tidak peduli dengan rumah yang tidak lain adalah agamamu dan agama nenek moyangmu, padahal aku datang untuk menghancurkannya tetapi kau tidak menyinggungnya sedikit pun?” ‘Abdul Muththalib berkata, “Sesungguhnya aku adalah sang pemilik unta dan rumah tersebut mempunyai Pemilik yang akan melindunginya.” Abrahah berkata, “Dia tidak layak menghalangiku.” ‘Abdul Muththalib membalas, “Itu urusan kau denganNya.” Kemudian Abrahah mengembalikan 200 ekor unta yang telah dirampasnya kepada ‘Abdul Muththalib.

Setelah bertemu dengan Abrahah, ‘Abdul Muththalib menemui orang-orang Quraisy dan menjelaskan permasalahan yang sesungguhnya. Ia segera memerintahkan mereka untuk keluar dari Makkah dan berlindung diri di gunung-gunung, bukit-bukit dan syi’b (lembah antara 2 gunung) karena khawatir akan mendapat gangguan dari pasukan Abrahah. ‘Abdul Muththalib pun menutup pintu Ka’bah dengan rantai kemudian berdoa bersama beberapa orang Quraisy untuk meminta pertolongan kepada Allah dari Abrahah dan pasukannya. (Begitulah tabiat kaum musyrikin Quraisy, mereka baru tulus memohon langsung kepada Allah jika mereka mendapat kesulitan dan bahaya, tetapi jika Allah hilangkan bahaya tersebut maka mereka kembali ke tabiat asli mereka yaitu menyembah berhala-berhala, hal ini berulangkali dijelaskan Allah Ta’ala di dalam Al-Qur’an).

Abrahah Menyiapkan Pasukan Gajah dan Datangnya Hukuman Allah Untuknya.

Keesokan harinya, Abrahah bersiap-siap memasuki kota Makkah. Ia menyiapkan pasukannya yang berjumlah besar berikut pasukan gajahnya. Ia membulatkan tekad bahwa Ka’bah harus dihancurkan hari itu juga kemudian segera kembali ke Yaman. Ketika Abrahah dan pasukannya telah berjalan akan memasuki kota, tiba-tiba Nufail bin Habiib Al-Khats’amiy menghampiri gajah Mahmuud yang dikendarai Abrahah dan berkata kepadanya, “Duduklah wahai Mahmuud atau pulanglah dengan damai ke tempatmu karena sesungguhnya engkau sekarang berada di tanah Haram!” Dan gajah itu pun seketika terduduk. Nufail bin Habiib segera pergi naik ke gunung. Pasukan Abrahah memukul gajah Mahmuud agar berdiri namun ia tidak mau berdiri. Mereka mencucuk lambungnya agar berdiri namun ia juga tidak mau menurut. Mereka mengiris perutnya dengan tongkat yang ujungnya menekuk kebawah membentuk kait dan Mahmuud tetap menolak untuk berdiri. Kemudian mereka menghadapkan gajah Mahmuud ke arah Yaman, ternyata ia langsung berdiri dan berjalan. Mereka menghadapkannya lagi ke arah Syam, ternyata ia juga mau berdiri dan berjalan. Mereka menghadapkannya kembali ke kota Makkah dan gajah Mahmuud kembali duduk, tidak mau berdiri.

Di tengah suasana penuh kebingungan, datanglah hukuman Allah kepada orang-orang kafir yang berniat buruk ingin menghancurkan rumahNya. Allah Ta’ala mengirim burung-burung seperti burung layang-layang dan burung balsan dari arah laut. Setiap burung membawa tiga batu, satu batu di paruhnya, dua batu di kedua kakinya, batu-batu tersebut mirip kacang dan adas. Dilemparkanlah batu-batu tersebut oleh burung-burung kepada Abrahah dan pasukannya. Setiap pasukan yang terkena batu, ia pasti tewas seketika, namun tidak semua pasukan tewas terkena batu, diantara mereka ada yang lari kocar-kacir, berebutan mencari-cari jalan dan Nufail bin Habiib agar ia menunjukkan arah pulang ke Yaman.

Pasukan Abrahah jatuh berguguran bagai daun-daun yang dimakan ulat. Pemimpin mereka, si kafir Abrahah mendapat luka di badannya karena batu tersebut. Kemudian ia digotong anak buahnya, namun daging di tubuhnya berjatuhan satu demi satu. Setiap kali dagingnya berjatuhan pasti disusul dengan keluarnya darah dan nanah. Itulah yang terjadi pada musuh Allah, Abrahah, hingga ia tiba di Shan’a, wujud tubuhnya telah berubah bagai anak burung karena dagingnya berjatuhan, dan akhirnya ia mati. Ketika mati, dadanya terpisah dari hatinya. Itulah penghinaan dan siksaan yang ditimpakan Allah Ta’ala kepada musuhNya yang berniat menghancurkan rumahNya. Allah Ta’ala berfirman mengenai mereka, “Lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan ulat. [QS Al-Fiil : 5]“

Hikmah dibalik Peristiwa.

Allah Ta’ala selalu menyiapkan hikmah yang Dia kehendaki dalam setiap peristiwa bersejarah yang terjadi. Melalui peristiwa ini, seakan-akan Dia mengingatkan bahwa Dia akan mengutus seseorang yang amat mulia, seorang Rasul yang akan mengemban risalahNya yang berasal dari kaum yang telah memelihara Ka’bah dan melalui Rasul inilah Ka’bah akan dijadikan pusat ibadah dari umat muslim sedunia kelak jika risalahNya telah tersebar di muka bumi. Dan dari peristiwa ini pulalah bisa kita tarik kesimpulan bahwa Allah Ta’ala benar-benar menjaga tanah Haram, penjagaan ini akan terus berlangsung hingga datangnya hari kiamat kelak sehingga siapapun yang berniat menghancurkan Ka’bah pasti akan terkena siksaNya.

Allahu a’lamu bishawab

Sumber : Sirah Nabawiyyah karya Ibnu Hisyaam cetakan Darul Falah, dengan sedikit penambahan

http://muhandisun.wordpress.com/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s