3 Faidah Berwudhu

Berwudhu memiliki faidah yang agung diantaranya ialah,

1. Wudhu membebaskan seseorang dari cengkeraman syetan.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Syetan senantiasa mengikatkan tiga ikatan di pangkal kepala kalian, bila ia sedang tidur. Syetan menepuk pada setiap ikatan, sambil berkata: malam masih panjang, maka tidurlah. Bila ia terjaga lalu berdzikir kepada Allah, maka satu ikatan akan terurai, dan bila ia berwudlu, maka satu ikatan lagi akan terurai, dan bila ia sholat, maka satu ikatan lagi akan terurai, sehingga pada pagi itu ia akan menjadi bersemangat dan berjiwa baik, dan bila ia tidak melakukan hal itu, maka jiwanya menjadi buruk dan pemalas.” (Muttafaqun ‘alaih).
 
2. Wudhu membersihkan dosa
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
 
“Tidaklah ada seseorang dari kalian yang mengambil air wudhunya, kemudian ia berkumur-kumur, memasukkan air ke hidung lalu mengeluarkannya kembali, melainkan dosa-dosa wajah, mulut dan hidungnya akan berguguran bersama. Kemudian bila ia membasuh wajahnya sebagaimana yang Allah perintahkan, maka dosa-dosa wajahnya akan berguguran melalui ujung jenggotnya bersama tetesan air.” (HR. Muslim)
 
3. Wudhu meninggikan derajat
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
 
“Sudikah kalian aku tunjukkan kepada suatu hal yang dengannya Allah akan menghapuskan dosa-dosa dan meninggikan derajat?” Spontan para sahabat menjawab: Tentu Ya Rasulullah!. Rasulullah bersabda: “Menyempurnakan wudlu walau dalam keadaan susah (karena dingin dll), banyak melangkahkan kaki ke masjid, menantikan (datangnya waktu shalat) selepas menunaikan shalat, maka itu adalah berjaga-jaga (di jalan Allah), maka itu adalah berjaga-jaga (di jalan Allah)”.(HR. Muslim)
 _______________________

(Sumber: Pesan ini disebarluaskan oleh Dakwah Al-Sofwa)

Renungan Untuk Para SUAMI..?!

Beberapa malam yg lalu, sesaat sebelum aku tidur,aku berada di atas ranjang,aku menoleh ke arah istriku & aku pandangi raut wajahnya sementara ia lagi tidur,aku bergumam dlm hatiku:

Malang sekali dia, setelah hidup selama bertahun-tahun bersama kedua orang tua&keluarganya, ia datang utk tidur di samping laki2 yg asing baginya.

Dia tinggalkan rumah org tuanya.Dia tinggalkan bermanja-manja dg kedua orang tuanya.Dia tinggalkan bersenang-senang di rumah keluarganya.

Sekarang ia datang kpd laki-laki yg menyuruhnya utk melakukan
:: Renungan Untuk Para SUAMI..?! ::

yg ma’ruf&meninggalkan yg mungkar.Dia melayani laki-laki itu sesuai dg yg diredhai Allah. Semua itu berdasarkan perintah agama, subhanallah..

Dari sini muncul pertanyaan di dalam diriku..

Kenapa sampai gampang bagi sebagian laki2 utk memukul istrinya dg penuh kekerasan? Setelah ia meninggalkan rumah keluarganya, kemudian datang kpdanya.

Kenapa ringan bagi sebagian laki2 utk keluar bersama teman-temannya, kemudian ia pergi ke restoran&ia makan tanpa mempedulikan siapa yg ada di rumahnya?

Kenapa ringan bagi sebagian laki2 menjadikan waktu duduknya di luar rumah lebih banyak daripada ia duduk bersama istri&anak2nya?

Knp ringan bagi sebagian laki2 menjadikan rumahnya bagaikan penjara bagi istrinya,tdk ia ajak keluar &juga tdk ia temani?

Bagaimana bisa gampang bagi sebagian laki2 membiarkan istrinya tidur, sementara di dlm hatinya ada kegetiran perasaan&di matanya ada air mata tertahan?

Bagaimana bisa gampang bagi sebagian laki2 pergi berjalan sementara anak-istrinya ia tinggalkan tanpa peduli dg nasib mereka selama ia pergi?

Kenapa bisa ringan bagi sebagian laki2 berlepas diri dari tanggungjawab yg akan ia pertanggungjawabkan di akhirat nanti sebagaimana yg di sampaikan oleh Rasulullah?

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik bagi keluarganya.”

Demikian, semoga bermanfaat. Wallaahu a’lam.

PETUAH-PETUAH IMAM SYAIFI’I rahimahullah TENTANG ADAB BERGAUL

اِذَا كَانَ لَكَ صَدِيْقٌ فَشُدَّ بِيَدَيْكَ بِهِ, فَإِنَّ اتِّخَاذَ الصَّدِيْقِ صَعْبٌ, وَمُفَارَقَتُهُ سَهْلٌ
“Jika engkau memiliki sahabat maka peganglah kedua tangannya erat-erat, karena mencari sahabat (sejati) sangatlah sulit, adapun meninggalkan sahabat adalah perkara yang mudah”

مَنْ صَدَقَ فِي أُخُوَّةِ أَخِيْهِ: قَبِلَ عِلَلَهُ, وَسَدَّ خَلَلَهُ, وَعَفَا عَنْ زَلاَّتِهِ
“Siapa yang tulus menjalin persaudaraan dengan sahabatnya maka ia akan menerima kesalahan-kesalahannya, mengisi kekurangannya, dan memaafkan ketergelincirannya”

مَنْ نَمَّ لَكَ نَمَّ عَلَيْكَ, وَمَنْ نَقَلَ إِلَيْكَ نَقَلَ عَنْكَ
“Barangsiapa yang menyebarkan namimah (mengadu domba) kepadamu maka ia akan bernamimah tentangmu. Barangsiapa yang menukilkan kejelekan orang lain kepadamu, maka ia akan menukilkan kejelekanmu (kepada orang lain)”
Artinya jika ada seseorang berbuat namimah dihadapanmu atau mengghibahi saudaramu dihadapanmu maka berhati-hatilah, karena bisa jadi engkau adalah korban berikutnya…karenanya janganlah merasa aman bergaul dengannya.

(Ust firanda andirja)

Ada Apa Dengan JILBOOBS?

Ketika istilah ini muncul, org ramai2 membicarakannya, baik yg PRO atau yg KONTRA, bahkan sampai harus ada lembaga tertentu yg mengeluarkan FATWA, padahal sejak 14 abad silam Islam,tlah memberikan ketentuan2 bagaimana seharusnya pakaian seorang MUSLIMAH? Ternyata Islam tdk hanya membatasi dalam hal JILBOOBS saja.

Maka hendaklah stiap Muslimah hati2 dan waspada dr batasan2 atau ketentuan2 yg lainnya dr persyaratan pakaian seorang Muslimah, diantaranya;

1. Menutup seluruh tubuh,kecuali muka&telapak tangan menurut pendapat yg lbh kuat&menutupnya adalah lbh utama.

(Lihat: QS. An-Nuur: 31; QS. Al-Ahzab: 59 &brdasarkan beberapa hadits &atsar yg lain)

Namun demikian, stiap kita hendaklh tdk mengingkari org yg berbeda pendapat dlm masalah ini.

2. Bukan termasuk perhiasan(bertabarruj), yaitu menampakkan perhiasan&keindahannya yg wajib ditutupi dari sgl hal yg mengundang syahwat lawan jenis.

Diantara yg termasuk perhiasan:

1. Tdk memakai pakaian yg dirangkai warna warni shg menarik perhatian lawan jenis.

Namun,warnanya tdk harus hitam polos,krn banyak riwayat yg menunjukkan bahwa isteri2 para sahabat brpakaian dg warna bermacam2 selain warna hitam.

2. Tebal&tdk tipis yg mensifati SELURUH badannya&tdk menutupinya.

Rasulullah bersabda, “Ada 2 kelompok manusia penghuni neraka,(diantaranya) & kaum wanita yg brpakaian tapi telanjang…”(HR. Muslim)

3. Longgar&tdk sempit shg membentuk bagian2 tubuhnya.(HR.Ahmad)

4. Tdk memakai wewangian.
Rasulullah bersabda, “Wanita mana saja yg memakai wewangian,lalu ia melewati suatu kaum agar mrk mencium wanginya,mk ia adalah pezina.” (HR. an-Nasai dll)

5. Tdk menyerupai pakaian laki2/org kafir.

Ibnu Abbas brkata, “Rasulullah melaknat laki2 yg menyerupai wanita&wanita yg menyerupai laki2.”(HR. Al-Bukhari dll)

6. Tdk termasuk pakaian syuhrah (kebanggaan), yg dipakai dg tujuan agar trkenal di kalangan org lain.

Berhati-hatilah. Semoga bermanfaat.

Buruk Sangka

Ketika ada yang berburuk sangka kepada kita, bersikaplah:

1. Apabila tidak benar, maka bersyukurlah kepada Allah sebab apa yang disangkakan saudara kita itu tidak benar.

2. Apabila benar adanya, maka bersyukurlah (dua kali) sebab Allah menunjuki keburukan kita melalui saudara kita itu.

3. Benar atau pun tidak sangkaan itu, maka bersyukurlah.

Sebab akan menjadi penghapus dosa dikarenakan (mungkin) kita pun pernah berburuk sangka kepada saudara kita itu.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَلْيَأْتِ إِلَى النَّاسِ الَّذِي يُحِبُّ أَنْ يُؤْتَى إِلَيْهِ

“Dan hendaklah ia memperlakukan manusia sebagaimana ia ingin diperlakukan…” (HR. Muslim)

Jangan berburuk sangka bila ‘tak ingin prasangka buruk menerpa kita…

@sahabatilmu

Sayangilah Orang yang Kau Sayangi Sekadarnya

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

أحبب حبيبك هونا ما عسى أن يكون بغيضك يوما ما، وأبغض بغيضك هونا ما عسى أن يكون حبيبك يوما ما

“Sayangilah orang yang kau sayangi (contoh : sahabatmu-pen) sekadarnya, bisa jadi suatu hari ia akan menjadi orang yang kau benci. Dan bencilah orang yang kau benci sekadarnya bisa jadi suatu hari ia menjadi orang yang kau sayangi”

Terlalu sering sahabat dekat akhirnya menjadi musuh…, maka berhati-hatilah dalam bersashabat…!, janganlah kau serahkan seluruh kasih sayangmu kepadanya…
Karena jika sampai berbalik maka akan menjadi kebencian yang sangat parah.
Akan tetapi semua kekhawatiran ini tidak akan terjadi… serta persahabatan akan tetap langgeng jika penjalinnya adalah cinta karena Allah, bukan karena dunia … bahkan akan langgeng hingga di akhirat kelak.

(Ust firanda andirja)

Berhijablah Wahai Saudariku!

 
Saudariku muslimah,
 
Allah Ta’ala menetapkan salah satu sarana ibadah bagi para wanita yang beriman, dengan mewajibkan kepada mereka untuk memakai hijab yang dapat menutup seluruh tubuh dan perhiasan mereka di depan kaum laki-laki lain. Bila hal itu dilakukan sebagai penghambaan, akan mendapatkan pahala; dan sebaliknya bila ditinggalkan, akan mendapatkan siksa. Oleh karenanya, setiap pelanggaran terhadapnya, merupakan dosa besar yang membinasakan, dan akan mendorong terjadinya dosa besar lainnya, semisal: sengaja mempertontonkan sebagian anggota tubuh, memamerkan sebagian perhiasan yang dipakai, membaur dengan kaum laki-laki, merangsang orang lain dan lain sebagainya, yang merupakan dampak-dampak negatif dari pelanggaran hijab.
 
Maka, diwajibkan atas para wanita yang beriman, agar tetap komitmen terhadap semua yang telah diperintahkan Allah ta’ala kepada mereka, berupa: memakai hijab, menutup tubuh, mempunyai sifat ‘iffah dan rasa malu, sebagai bentuk ketaatan mereka kepada Allah ta’ala dan Rasul-Nya. Allah ta’ala berfirman:
 
وَمَاكَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلاَمُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللهُ وَرَسُولَهُ أَمْرًا أَن يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةَ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَن يَعْصِ اللهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلاَلاً مُّبِينًا
 
“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” (QS. al-Ahzab : 36).
 
Kenapa demikian? Karena di balik semua kewajiban tersebut terdapat berbagai hikmah,rahasia-rahasia agung, keutamaan-keutamaan mulia, tujuan-tujuan dan kemaslahatan-kemaslahatan besar. (Syaikh Bakar bin Abdullah Abu Zaid, Hirosatul Fadhilah)   
_______________________

(Sumber: Dakwah Al-Sofwa)